Langsung ke konten utama

Resolusi Parenting 2019



Tak terasa sudah di penghujung tahun lagi, ya. Meskipun sangat banyak resolusi di tahun-tahun sebelumnya yang belum terealisasikan, namun tidak ada salahnya kan jika kita mencoba lagi, Mom. Kali ini, setelah mengevaluasi pola asuh selama 2 tahun lebih menjadi ibu, akhirnya saya terpikir untuk membuat resolusi khusus ini. Resolusi parenting yaitu tentang pola asuh, sebab mengasuh anak ini adalah hal paling krusial dalam hidup saya dimana saya memegang amanah besar dariNYA untuk menyiapkan generasi yang kelak akan membangun peradaban.

Resolusi tahun depan :

1). Meninggalkan 'Inner Child Negatif' di 2018

Pernah pada suatu waktu curhat ke suami tentang bagaimana ya caranya biar si sulung ga main tangan ke adeknya dan ga jailin adeknya lagi. Soalnya kalau main bersama adeknya, dia suka jailin adeknya, entah adeknya sering dibikin bantal, didudukin, dinaikin, diremes dan dicakar pipinya, dll karena sangat bahaya dan mengkhawatirkan kalau sewaktu-waktu tidak ada yang memantau atau menjaga mereka saat bermain bersama.

Saya menangkap bahwa tindakan si sulung ke adeknya itu hanyalah ekspresi rasa 'gemas' yang coba ia ekspresikan dengan cara yang unik. Saya bisa merasakan kalau si sulung sangat sayang pada adiknya. Selama ini dia sering berbagi, terlihat panik dan khawatir kalau adiknya menangis. Dia hanya belum mengerti kalau kegemasannya itu menyakiti adeknya. Sebagaimana dia masih sangat kecil debgan jiwa kekanakannya, tetap saja ego sebagai anak batitanya yang akan dominan muncul. Apalagi saat dia melihat umi dan abinya lebih perhatian  ke adeknya, seketika dia yang sebelumnya bersikap manis akan berubah menjadi caper dengan cara mengganggu adeknya.

Mom, ada yang sama? Buat Momies yang punya dua batita yang jarak usianya dekat seperti saya, pasti paham bagaimana perasaan saya setiap kali kejadian yang tidak diharapkan terjadi pada keduanya. Saya sendiri masih terus belajar dalam mengelola emosi apalagi saat dihadapkan pada kesulitan meng-handle dua batita di waktu bersamaan. Sering saya katakan ke suami, "Umi gak marah kalau Kirom berantakin kamar, tumpahkan air, tumpahkan nasi, bongkar lemari, acak-acak baju di keranjang dan lempar mainan sana sini, umi gak pernah marah. Umi biarkan. Tidak ada emosi. Tapi satu hal yg paling tidak bisa ditolerir dan sering bikin emosi tak terkendali yaitu saat Kirom memukul atau menjaili adeknya. Entah kenapa umi cepat sekali naik pitam dan ujung-ujungnya membentak atau mudah sekali berteriak ke Kirom dan setelah itu menyesal telah membentak dan berteriak padanya. Sering bertanya dalam hati setelah itu "Kenapa harus membentak? Kenapa harus teriak ke anak kecil ya Allah?" Padahal saya tahu betul dampak dari membentak anak, saya sudah baca banyak tentang hal itu, tapi kenapa kok rasanya sangat susah mengendalikan diri. Saya benar-benar menjadi lupa ilmu parenting yang saya dapatkan itu dan tidak dapat mengontrol emosi saat hal itu terjadi?

Alhamdulillah,
Setelah mencari tau kenapa perasaan emosi saat melihat situasi itu sulit sekali terkendali, akhirnya saya temukan bahwa itulah dia, si 'Inner Child Negatif' di dalam diri saya. Menurut beberapa pakar parenting, Inner Child ini adalah sesosok diri kita di masa kecil  yang membawa pengalaman masa kecil  tertentu dan melekat kuat di dalam ingatan, tertinggal pada alam bawah sadar kita, dan terbawa terus hingga dewasa.

Setelah saya ingat-ingat lagi, ternyata benar. Saat saya kecil, saya mengalami hal serupa dengan apa yang saya lakukan ke anak saya. Tindakan itu adalah apa yang dilakukan ibu saya dulu. Masih terekam jelas di ingatan saya, saat saya kecil bermain bersama adik saya (kami juga selisih usia sangat dekat), saya mengganggunya dan sering memukul, saya ingat saat ibu saya sangat emosi melihat adik saya menangis karena ulah saya, beliau mengejar saya sambil berteriak, membentak, dan membawa sapu, saya kecil lari terbirit-birit ketakutan. Ternyata 'Inner Child Negatif' itu tinggal di diri saya, makanya saat situasi yang sama terjadi, saya pun emosi dan melakukan hal serupa yang dilakukan ibu saya dulu. Kabar baiknya, inner child ini bisa disembuhkan dengan beberapa cara Inner Child healing. Langkah penting dalam proses penyembuhan 'Inner Child Negatif' ini adalah dengan berusaha memahami kondisi dan memaafkan cara pengasuhan orang tua kita dulu. Sudah saatnya memutus rantai negatif ini. Saya telah berdamai dengan 'Inner Child negatif' saya dan akan meninggalkan dia di tahun ini, saya tidak ingin dia terus mengikuti saya dan mengacaukan pola asuh saya terhadap anak-anak saya kelak. 

2. Membentengi diri dari 'Ghost Parenting'

Resolusi kedua masih seputar psikologis anak. Sadar tidak sadar, sebenarnya semua yang berstatus 'orang tua' itu sebenarnya mewarisi pola asuh dari orang tuanya dahulu, sebagaimana orang tuanya juga mewarisi pola asuh yang diterapkan oleh nenek/kakek (orang tua dulu) dan begitu terus sampai ke atas-atasnya lagi. Dan dampaknya akan panjang sampai ke anak cucu dan ke bawah-bawahnya lagi kalau tidak distop sampai di kita. Seperti yang saya tulis di resolusi pertama di atas bahwa 'Inner Child' itu muncul saat kita dihantui oleh pola asuh di masa kecil kita. Ada 'Inner Child' positif ada juga 'Inner Child' negatif. Tergantung mana yang lebih dominan dalam ingatan, kenangan indah atau kenangan yang buruk yang dialami saat masa kecil. Jadi, membentengi diri dari hantu-hantu pola asuh ini mungkin perlu. Bisa dilakukan dengan cara sering-sering menyetel murotal agar dijauhkan dari hasutan-hasutan yang mengarah ke hal negatif danbingatan negatif.

3. Mengurangi penggunaan Gadget di depan anak /suami


Resolusi ketiga tak kalah penting.
Percaya atau tidak, menurut saya, gadget itu terkadang statusnya bisa sama dengan status seorang anak atau bahkan suami dalam kehidupan keluarga. Jika dalam keluarga ada 4 anggota (Ayah, Ibu, Anak pertama, Anak kedua) nah, gadget bisa berstatus sebagai anak ketiga atau bahkan Ayah. Bagaimana tidak? Tiap hari dielus, disentuh, dipegang, dikasih makan (baca charge) dicas saat dia tak berdaya, dijaga dengan hati-hati, tiap saat dicek, yang itu semua rasanya sudah sama bahkan melebihi perlakuan kita terhadap anak atau suami yang seharusnya lebih membutuhkan itu semua. Jadi, jika tahun 2018 kebanyakan perhatian tercurahkan ke gadget, tahun 2019 nanti harus bertekad untuk lebih memprioritaskan anak dan suami. Minimal dengan menyimpan HP sejenak saat mereka berhadapan dengan kita atau jika memang sangat butuh buka gadget saat di depan anak dan suami, usahakan sudah meminta izin kepada mereka sebelumnya.

4. Memperbanyak beli buku buat anak

Resolusi ke empat ini juga saya pikirkan. Salah satu cara mengurangi paparan gadget dalam keluarga bisa dengan mengganti perlahan-lahan dengan menciptakan kebiasan baca buku. Buku itu penting buat anak kecil maupun orang dewasa. Anak yang biasa membaca buku biasanya akan berbeda dengan anak yang tidak biasa baca buku, mereka yang biasa membaca buku akan memiliki kosa kata yang lebih variatif dan peningkatan dalam hal menyusun kata-kata dalam menulis ataupun berbicara. Jadi, ini masuk juga ke resolusi saya. Semoga Allah mudahkan.

5. Menerapkan Program ODOPJ (One Day One Parenting Journal)

Resolusi ke lima, ini juga terlintas.
Sebagai ibu pembelajar, sangat penting sekali untuk mengupgrade terus ilmu pengasuhan secara terus menerus. Oleh karena itu, program ODOPJ (One Day One Parenting Journal) yang maksudnya adalah satu hari wajib membaca satu jurnal tentang pengasuhan anak. Ini perlu sekali dibuat dan harus memiliki tekad yang konsisten dan kuat dalam menerapkan ini. Membaca satu jurnal parenting sebelum memulai aktivitas setiap hari dan sebelum berkutat dengan urusan mengasuh anak, insyaAllah pikiran dan sikap kita pada anak-anak akan lebih terkontrol untuk meminimalisir hal-hal yang tidak kita inginkan yang akan membuat kita menyesal. Semoga Allah mudahkan juga.



Menjadi seorang adalah proses belajar. Jika tahun ini masih banyak kekurangan di sana sini dalam hal mengasuh anak-anak, tak ada salahnya bertekad untuk meminimalisirnya pada hari esok atau bahkan meniatkan agar kesalahan hari ini jangan sampai terulang di hari esok. Soal hasil, kita serahkan sama Allah. Yang terpenting adalah kita sudah punya kesadaran, niat dan tekad untuk terus memperbarui diri dari hari ke hari agar menjadi ibu yang lebih baik bagi anak yang sudah dipercayakan ke kita untuk diperlakukan sebagaimana mestinya.

Selamat berganti tahun masehi ya, Mom.
Terimakasih sudah mampir di sini..
Semoga ada sedikit faedah yang bisa diambil dari tulisan ini.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

CEPT test dulu, Baru Bisa Wisuda

Tulisan ini sengaja saya buat sebagai referensi buat mereka yang mungkin suatu hari nanti akan kepo tentang CEPT test. Siapa tau adek-adek angkatan nanti akan bingung dan butuh informasi tentang ini di minggu-minggu terakhir menjelang ujian thesis mereka nanti.



Beberapa hari lalu, saya ikut tes CEPT buat memenuhi persyaratan kelulusan. Ya, tes ini WAJIB dan hanya sertifikat CEPT/TOEFL dari Cilacs UII yang diminta (Artinya kamu nggak boleh tes English Proficiency di tempat lain). Untuk mengikuti tes ini, kita diberi opsi lokasi tes. Bisa di kantor cilacs UII yang ada di bookstore kampus terpadu UII Jl. Kaliurang atau di kampus UII jl. Demangan. Saya kemarin, pilih lokasi di bookstore UII karena dekat.

Sebenarnya seperti apa sih tes CEPT ini? Jadi, CEPT (Certificate of English Proficiency Test) ini serupa dengan tes TOEFL yang akan menentukan kemampuan kamu dalam berbahasa Inggris ada di level mana. Kalau kamu (Mahasiswa UII) belum melewati serangkaian persyaratan tes CEPT ini, jangan …

Make Up Bagi Wanita Berniqab

Semua wanita di dunia terlahir cantik. Wanita juga terlahir sudah sepaket dengan fitrahnya yaitu ingin selalu tampil cantik dan menyukai kecantikan. Tidak terkecuali dengan wanita berniqab. Meskipun wajah tertutupi oleh selembar kain penutup hingga yang tampak hanya mata saja, namun tidak menghalangi hasrat untuk mempercantik apa yang ada dibaliknya. Tak heran, ada sebagian besar wanita yang walau berniqab tetapi tetap suka membawa peralatan make up di dalam tasnya. Di sisi lain, ada juga wanita berniqab yang sekadar menggunakan bodycare dan skincare no make up.
Bagi wanita Muslim, dalam memilih jenis make up, salah satu syarat wajibnya yaitu kehalalan produk make up yang dipilih. Dari bahan make up, termasuk bulu kuasnya saja, perlu dipastikan apakah halal atau tidak. Saat ini, alhamdulillah.. sudah banyak produk make up halal yang beredar. Khusus wanita berniqab, ada Dr.UmmiAmizah dan Dr. Ferihana sebagai referensi karena mereka lebih tau kebutuhan wanita berniqab dikarenakan merek…

Doa Untuk Pengantin

"Semoga samawa, yaaa..."  Setiap ada hajatan pernikahan, tak jarang kita mendengar ucapan selamat di atas, baik itu dalam bentuk tulisan maupun secara lisan dari para tamu yang hadir.
Samawa adalah kata singkatan dari (Sakinah, Mawaddah, Wa Rahma) kata Samawa biasanya diucapkan guna menyingkat  3 kata bahasa arab di atas agar lebih mudah diucapkan saat mendoakan pengantin. Meski begitu, banyak dari kita belum tahu kalau ucapan seperti itu adalah akronim yang kurang tepat sebab dengan mengucapkan "Semoga Samawa", itu sama seperti kita mendoakan pengantin dengan doa yang menggantung. Mengapa menggantung? Karena "Wa" di sini Artinya "Dan", yang merupakan kata sambung dalam bahasa arab. Jadi, Saat kita mengucapkan "semoga samawa" artinya  "Semoga sakinah, mawaddah , dan..."
(Dan apa?) Karena samawa menggantung, maka sebaiknya "Wa" diganti dengan "Ra" sehingga membentuk Samara (Sakinah, Mawaddah, Rahma). …

Tips Ngabuburit Asyik & Buka Puasa Di Rumah

Hari pertama di bulan Ramadhan, yang kemarin kita nanti-nanti sudah dijalani hari ini. Alhamdulillaah, kita ternyata masih diizinkan oleh Allah untuk bertemu bulan istimewa tahun ini. Semangat ya, semuanya! :) Jangan sia-siakan kesempatan ini.
Oh ya, teman-teman sudah punya rencana ngabuburit? Wah.. Asyiknya yang sudah punya agenda di luar. Itu artinya Ramadhan kali ini benar-benar direncanakan dengan baik. Setiap detiknya memang harus disetting agar tidak terbuang percuma. Nah, ada yang ngabuburit di rumah saja? Kayak saya, hehe. Jangan sedih, bagi yang masih bingung mengisi ngabuburitnya, Saya punya tips ngabuburit yang nggak kalah asyik nih dari Handbook Dompet Dhuafa, buat teman-teman di rumah yang nggak kemana-mana.

Berikut tipsnya;

Selepas shalat ashar (teman-teman shalat ashar,kan ya? Iyalah ya, pastinya!)
👉Lari sore ringan Sempatkan lari sore ringan, deh! 15 sampai 20 menit saja. "What? 20 menit? Bisa pingsan saya! Di jam kritis pula" Hehehe baiklah.. 5 sampai 10 m…

Penyebab Bau Mulut

Masalah bau mulut memberi pengaruh besar terhadap kepercayaan diri. Salah satu dampak buruknya yaitu bau mulut dapat menghambat prestasi seseorang. Hal itu terjadi disebabkan masalah ini sering mengurangi totalitas seseorang terhadap  performance.

Dalam penanggulangan keluhan tersebut, telah banyak produk-produk pencuci mulut yang diformulasikan khusus untuk mencegah dan mengatasi bau mulut. Namun, masih ada saja sebagian besar orang yang mengeluhkan ini; Kenapa mulut tetap bau? padahal sudah rajin sikat gigi. Menjawab pertanyaan tersebut, ternyata baru diketahui bahwa penyebab bau mulut bukan hanya karena faktor kemalasan menjaga kebersihan mulut saja. Menurut para ahli kesehatan gigi dan mulut, ada beberapa faktor lain yang membuat aroma tak sedap keluar dari mulut seseorang meski sudah rutin menggosok gigi. Berikut alasannya; Mulut kering Mulut kering (Xerostomia) adalah hal umum yang sering menimbulkan gangguan kesehatan mulut, salah satunya bau mulut. Mulut kering disebabkan oleh…

Book Review: Wonderful Love

Pada sebuah kesempatan saya dapat hadiah buku bergizi melalui program give away seseakun di sosial media. Senangnya tak terkira. Setelah membacanya, saya tergelitik sekali untuk berbagi review tentang buku ini karena saya merasakan manfaatnya. Pelit rasanya, jika harus menyimpan sendiri ilmu yang sudah didapat.


Ini adalah book review pertama saya, dan mungkin masih review ala ala amatiran. Meski begitu, setidaknya ilmu yang saya dapatkan semasa kuliah tidak sia-sia dan Alhamdulillah terpakai untuk mereview buku ini. Jika ada kritik dan saran konstruktif dari pembaca review ini, feel free to tell me, ya. Oke, mari kita mulai review bukunya.
Jadi, buku ini berjudul "Wonderful Love" karya Cahyadi Takariawan. Buku ini adalah salah satu seri buku best seller "Wonderful Family". Oh ya, Ada yang belum kenal Cahyadi Takariawan? Kalau buat pecinta buku bertema keluarga dan pernikahan pasti sudah familiar  ya, sebab Cahyadi Takariawan yang akrab dengan sapaan 'pak Cah&#…

Ramadhan Saat Masih Kecil

Ramadhan saat masih kecil selalu menjadi kenangan istimewa yang akan terus diingat sampai dewasa. Masih terbayang di ingatan saya, betapa bahagianya menikmati kebersamaan selama Ramadhan saat masih kecil. Teringat saat-saat belajar berpuasa dengan dukungan dan bimbingan orang tua.


Antusias Bangun di Waktu Sahur  Samar-samar ingatan tentang saat itu, saat saya kecil, mungkin saat itu saya masih usia balita. Saya senang mendengar suara berisik yang berasal dari toa masjid kampung pada pukul tiga an dini hari. Saya sering ikut terbangun dan mendapati suasana saat orang-orang dewasa di rumah saya ramai makan sahur bersama. Saya belum mengerti rutinitas apa itu, tetapi saya merasa damai menikmati suasana itu.
Pemahaman Tentang Puasa
Berlanjut saat saya duduk di bangku SD, nenek saya sering berbagi cerita tentang apa itu puasa, sahur, dan berbuka. Saya pernah disarankan nenek untuk belajar berpuasa, dengan cara berpuasa setengah hari. Jadi, saya disuruh ikut puasa, tidak makan dan minum dari…